Rabu, 10 Juni 2026

Waktu Ibu Berpulang

    Waktu Ibu berpulang yang pertama kali saya rasakan bukan sedih, melainkan bingung. Bingung karena saya tidak bisa membayangkan sebuah dunia tanpa ada nya Ibu... Baru setelahnya perasaan sedih datang menyusul... Membuat sebuah lubang besar di hati yang sampai kapanpun tidak pernah diisi...  

    Saya jadi terbiasa menutup diri, tidak mau membahas Ibu, menghindari pertanyaan tentang Ibu... Mulai Destruktif... Apapun saya lakukan agar tidak bersedih... Karena beberapa teori tentang diri ini saya pelajari mulai rasa tidak percaya, seperti halnya bermimpi, kemana Ibu pergi setelahnya... Namun setelah 40 hari masuk ke fase mengikhlaskan dengan terus berbicara lewat doa... Maka izinkan saya berbagi kenangan disini. . .

    Ingatan masih melekat di kepala, lebaran tahun ini memang begitu berat bagi Ibu... Kita bertiga di rumah (Bapa, Ibu, Saya) harus menunggu adanya kendaraan untuk bisa pergi ke Garut (Tempat kelahiran Bapa), karena Ibu sangat senang sekali kesana, destinasi perjalanan jauh sekaligus bertemu keluarga bapa di Garut... Disana Ibu kali pertama dan terakhirnya bisa makan di rumah makan Sugema Raya, yang kerap disebut ‘’piring seng’’ oleh mak Neneh (Ibu dari Bapa)...

 

    


    Hari berikutnya di Garut, kita makan ‘’Bakso Kiara’’, tempat usaha adik Bapa . . . Ya tiap kesana kita selalu menyempatkan makan bakso di usaha adik Bapa... Untuk saat ini saya masih belum bisa membayangkan kita kesana makan bakso tanpa adanya Ibu . . .



               
Sepulang dari Garut, hari libur (Weekend), kakak pertama saya mengajak Ibu untuk main ke Kakak Kedua saya, ditengah perjalanan kita sempatkan makan di ‘’Saung Babeh’’. Disitu Ibu makan dengan lahap sekali tanpa saya sadari tidak ada apa-apa...


    Jum’at, 01 Mei 2026, kondisi Ibu dari semalam tidak nafsu makan... Bapa segera menghubungi kami di Group WhatsApp... Sore sekitar pukul 16.30 WIB kami bawa Ibu ke RS Hermina Serpong tempat Ibu sering kontrol dan sampai detik Ibu berpulang... Ibu langsung dibawa ke IGD, Setelah dicek gula 600 saturasi oksigen menurun 40%, Medina datang dengan menjelaskan kondisi Ibu sangat kritis... Tapi perasaan saya tetap bahwa Ibu akan baik-baik saja, Ibu hanya perlu menunggu kamar dirawat lalu beberapa hari kemudian kita pulang bersama, maka saat itu saya inisiatif untuk membeli persiapan rawat inap Ibu, mulai dari pempers, Tissue...

    Setelah saya kembali ke Rumah Sakit sekitar pukul 21.40 WIB, di depan pintu Rumah Sakit ada Saudara, Tante, ramai berkumpul dengan segenap hati dan pikiran bertanya... Lalu kakak kedua saya datang dan menghampiri saya saat turun dari kendaraan, menjelaskan bahwa Ibu sudah tidak ada, detik itupun kaka kedua saya memeluk saya, lalu bergegas mengajak masuk ke dalam Rumah Sakit. Makin dekat ruangan yang dituju, makin melambat langkah saya... Gordyn dibuka, dihadapan saya ada sesosok tubuh diselimuti kain sampai ke atas kepala, saya buka kain tersebut wajah Ibu sudah mulai membiru...

Ibu..... Teriak saya... Lutut mendadak lemas tak mampu berdiri, Hari itu dunia saya hancur . . . .

Ibu di kamar mayat adalah kalimat yang sulit saya cerna . . . .

Saya duduk didalam mobil ambulance tatkala mengantar Jenazah Ibu diantar ke rumah . . . Hati dan pikiran masih tidak bisa menerima... Dengan diiringi suara sirine ambulance...

    Tetangga, Kerabat, Saudara ramai berkumpul... Tetapi yang saya pikirkan hanyalah Ibu . . . Wajahnya damai sekali, seperti sedang tertidur tenang . . . Berharap napas Ibu masih ada, dan meminta air hangat seperti biasanya . . . Iya delusional, biarkan saya berharap dengan ketidak mungkinan itu . . . Ibu akan dimakamkan esok hari, di TPU Cigorongsong Cicangkal Rumpin, dekat dengan Almh. Emak nya Ibu (Nenek saya) . . .



   Saya jadi teringat beberapa bulan sebelum Ibu berpulang saya sempat meminta izin untuk bekerja di luar kota, tetapi hal itu tidak terjadi karena Ibu ingin anak terakhirnya ini tetap bisa mengajak Ibu dihari liburnya ajak main, atau bahkan setelah pulang kerja tetap kumpul bersama . . . Hingga saat ini Ibu telah berpulang, masih banyak harapan-harapan Ibu yang masih belum tercapai, saya kalah cepat dengan umur Ibu . . . Tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain doa... Percaya saja, serindu apapun saya, pasti mendoakan Ibu . . .

Rukmawati Binti H. Idjan . . .

Al-fatihah . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar